Resiko Galon Air Mengandung BPA, Ini Penjelasannya
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Senin, 25 Agt 2025
- visibility 88
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Zat kimia Bisfenol A (BPA) yang masih banyak digunakan dalam pembuatan plastik polikarbonat menjadi perhatian dunia. Penggunaan bahan ini, yang telah berlangsung sejak tahun 1950-an, diketahui memiliki risiko besar terhadap kesehatan manusia.
Menurut penelitian terbaru, sekitar 93 persen populasi global diketahui menyimpan jejak BPA dalam tubuh mereka.
Data ini menimbulkan kekhawatiran serius karena paparan BPA diketahui berpotensi memicu berbagai gangguan hormon, kerusakan otak pada anak-anak, hingga peningkatan risiko penyakit kanker.
BPA digunakan secara luas dalam pembuatan berbagai produk plastik keras, seperti galon isi ulang, botol minum, dan wadah makanan.
Namun, studi menunjukkan bahwa zat ini mudah bermigrasi dari plastik ke makanan dan minuman, terutama saat terkena panas, sinar matahari langsung, kondisi asam, atau penggunaan berulang.
Professor Mochamad Chalid, pakar polimer dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa BPA cenderung luruh dari plastik saat bersentuhan dengan air.
“Proses pelepasan BPA semakin cepat jika plastik tersebut terkena panas atau dicuci berulang kali,” ujarnya, Senin (25/08) dikutip dari liputan6 com.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konsumen secara tidak sadar mengonsumsi BPA melalui makanan dan minuman yang mereka konsumsi sehari-hari.
Pemerintah dan lembaga terkait pun terus melakukan penelitian dan upaya regulasi untuk membatasi penggunaan BPA demi melindungi kesehatan masyarakat.
Para ahli juga menyarankan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menggunakan produk berbahan plastik, terutama yang berukuran besar dan sering digunakan ulang, serta menghindari pemanasan makanan dalam wadah plastik yang belum diketahui keamanannya.
Pemerintah Indonesia pun tengah mempertimbangkan regulasi ketat terkait penggunaan BPA dalam produk plastik guna meminimalisir risiko kesehatan bagi masyarakat.
Masyarakat diimbau untuk lebih selektif dalam memilih produk dan memperhatikan label keamanan plastik yang mereka gunakan.
Dengan semakin meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak BPA, diharapkan industri plastik akan berinovasi mencari alternatif bahan yang lebih aman demi kesehatan manusia dan lingkungan.
Sementara itu dikutip dari badan POM RI Sehubungan dengan adanya isu seputar Bisfenol A (BPA) dalam kemasan galon Polikarbonat (PC), Batas migrasi maksimal BPA adalah sebesar 0,6 bagian per juta (bpj, mg/kg) sesuai ketentuan dalam Peraturan Badan POM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan.
Dengan hasil pengujian terhadap BPA dari penggunaan plastik jenis PC sebagai kemasan galon masih dinyatakan aman.
- Penulis: mediagramindo


