Dolar Singapura Mulai Dilirik sebagai Alternatif Safe Haven di Kawasan Asia
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Senin, 21 Jul 2025
- visibility 218
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian meningkat, para investor mulai mencari alternatif aset safe haven untuk melindungi nilai investasi mereka. Selama ini, emas, dolar Amerika Serikat (AS), yen Jepang, dan franc Swiss menjadi pilihan utama. Namun, belakangan ini, dolar Singapura (SGD) mulai mendapatkan perhatian sebagai potensi safe haven baru, khususnya di kawasan Asia.
Sejak awal tahun 2025, indeks dolar AS (DXY) mengalami koreksi sekitar 9%, bahkan menyentuh level terendah dalam tiga tahun di angka 96,37 pada Juli lalu. Sementara itu, yen Jepang juga menghadapi ketidakpastian yang sama di pasar global, menambah kekhawatiran investor terhadap mata uang tradisional safe haven tersebut.
Menurut Christopher Wong, FX Strategist dari OCBC, dolar Singapura kini mulai berperan sebagai “quasi safe haven”, khususnya di kawasan Asia dan pasar negara berkembang.
“Meskipun tidak memiliki status global seperti dolar AS, yen Jepang, atau franc Swiss, SGD menunjukkan karakter defensif selama periode tekanan finansial, terutama yang berpusat di Asia,” ujarnya dikutip dari CNBC International, Senin (21/07).
Data Refinitiv menunjukkan bahwa sejak awal 2025, nilai tukar SGD terhadap dolar AS menguat hampir 6% secara year-to-date. Pada penutupan perdagangan Jumat (18/7/2025), SGD berada di level SGD 1,2849/US$, dari posisi awal Januari yang mencapai SGD 1,3641/US$. Bahkan, mata uang ini sempat menyentuh level terkuatnya di SGD 1,2695/US$ pada awal Juli lalu.
Sementara itu, data Bank for International Settlements (BIS) 2022 menyebutkan bahwa dolar AS masih mendominasi pasar valas global dengan pangsa 88%, diikuti yen Jepang (17%) dan franc Swiss (5%). Dolar Singapura sendiri hanya memiliki pangsa sekitar 2%, mencerminkan ukuran pasar yang relatif kecil. Survei terbaru BIS mengenai pasar valas diperkirakan akan dirilis pada September 2025.
Berbeda dengan banyak negara lain yang menggunakan suku bunga sebagai instrumen pengelolaan nilai tukar, Singapura mengadopsi kebijakan kurs mengambang yang diatur melalui koridor kebijakan. Otoritas moneter Singapura tidak menetapkan nilai tukar secara tetap, melainkan membiarkan SGD bergerak bebas dalam rentang yang tidak dipublikasikan.
Dengan kondisi ini, munculnya dolar Singapura sebagai alternatif safe haven di kawasan Asia menunjukkan potensi peran yang semakin penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Para investor pun mulai memantau pergerakan SGD sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset mereka.
- Penulis: mediagramindo


