Rusia Beri Pernyataan Tegas Terkait Rencana Pembunuhan Khamenei oleh Israel dan AS
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Jumat, 20 Jun 2025
- visibility 75
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Moskow – Rusia memperingatkan keras kemungkinan tindakan balasan jika Israel dan Amerika Serikat (AS) membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Istana Kepresidenan Kremlin, Dmitry Peskov, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Sky News yang berlangsung pada Jumat (20/6).
Dalam wawancara tersebut, Peskov menegaskan bahwa Rusia akan merespons secara sangat keras apabila terjadi pembunuhan terhadap Khamenei. “Kami akan merespons dengan sangat buruk. Sangat buruk. Kami akan sangat tidak menyetujuinya,” ujarnya, menegaskan posisi tegas Moskow terhadap potensi aksi tersebut.
Wacana pembunuhan Khamenei mencuat sejak terjadi konflik bersenjata antara Israel dan Iran yang mulai memanas sejak 13 Juni lalu. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, beberapa kali menyatakan bahwa perang antara kedua negara hanya akan berakhir jika Khamenei terbunuh. Dalam wawancara dengan ABC News, Netanyahu menyebut bahwa langkah tersebut sebagai satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik.
Sementara itu, mantan Presiden AS Donald Trump juga mengungkapkan hal serupa melalui platform media sosial, Truth Social, pada Selasa (17/6). Trump menyatakan bahwa ia mengetahui lokasi Khamenei dan bisa membunuhnya kapan saja, namun memilih menunggu karena masih ingin melanjutkan negosiasi dengan Iran. Ia juga mengultimatum Khamenei agar menyerah tanpa syarat, meskipun peringatan tersebut diabaikan oleh pemimpin Iran.
Peskov menilai bahwa jika langkah pembunuhan terhadap Khamenei benar-benar dilakukan, akan muncul gelombang aksi dari masyarakat Iran. “Masyarakat Iran sangat terorganisasi dan terkonsolidasi. Jika hal itu terjadi, akan memicu suasana ekstremis di Iran,” katanya.
Selain itu, Peskov juga memperingatkan Israel dan AS agar tidak lagi membahas rencana tersebut, karena dikhawatirkan akan membuka “kotak Pandora” yang berpotensi memperburuk konflik regional.
Sementara itu, insiden serangan Israel ke Iran pada 13 Juni lalu memicu reaksi keras dari Teheran. Iran meluncurkan Operasi True Promise 3 sebagai respons, setelah serangan tersebut menewaskan ratusan orang, termasuk pejabat tinggi militer dan ilmuwan nuklir Iran. Serangan juga merusak fasilitas nuklir Iran di Natanz, yang menyebabkan radiasi tersebar di area tersebut.
Dukungan terhadap Iran datang dari negara-negara mayoritas Muslim dan sekutu nuklir Teheran, yang mengutuk keras serangan Israel. Rusia menawarkan diri untuk menjadi mediator dalam konflik Iran-Israel, sementara China mendesak agar gencatan senjata segera dicapai dan menegaskan bahwa penyelesaian masalah nuklir Iran harus dilakukan melalui jalur diplomatik dan politik, bukan melalui tindakan militer.
Situasi yang semakin memanas ini menunjukkan ketegangan yang berpotensi meluas di kawasan Timur Tengah dan menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih besar.
- Penulis: mediagramindo


