“Mana Tongkatku” Teriak Pria Tunanetra Saat Diamankan di Kota Pematangsiantar
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Sabtu, 14 Jun 2025
- visibility 96
- print Cetak

Perlakuan tidak manusiawi ditujukan oleh Pihak keamanan di Kota Pematangsiantar, (14/06).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pematangsiantar – Viral video amatir yang menunjukkan seorang pria tunanetra diamankan oleh petugas keamanan menimbulkan beragam komentar dari warganet.
Peristiwa tersebut terekam di depan toko Roti Ganda pada hari Jumat (13/6/2025), dan memperlihatkan pria berinisial DH yang diduga tunanetra, tengah diseret oleh dua orang petugas serta seorang pria berpakaian preman.
Dalam video berdurasi 2 menit 21 detik itu, DH tampak berteriak dan berusaha merebut tongkatnya yang hilang, sambil menjerit, “Mana tongkatku mana tongkatku.” Kejadian itu menuai perhatian dan kritik dari warga yang menilai perlakuan petugas terlalu kasar dalam menangani penyandang disabilitas.
Menanggapi viralnya video tersebut, Plt Kepala Dinsos P3A Kota Pematangsiantar, Risbon Sinaga, memberikan klarifikasi. Ia menyatakan bahwa video yang beredar tidak menampilkan seluruh rangkaian kejadian secara lengkap. “Video itu terpotong, tidak utuh. Ada kejadian sebelumnya, pria itu memukul anggota kita yang tengah bertugas di lapangan,” katanya, Sabtu (14/6).
Risbon juga mengakui bahwa pihaknya tidak memiliki rekaman lengkap atau bukti dokumentasi terkait insiden pemukulan tersebut. Ia menegaskan bahwa DH memang sudah berulang kali diamankan oleh petugas dan pernah dibawa pulang ke pihak keluarga maupun direkomendasikan untuk dirawat di Panti Sosial Tunanetra di Desa Sei Buluh, Kabupaten Serdang Bedagai.
“Pria itu berasal dari Medan dan bukan warga Pematangsiantar. Dalam razia yang dilakukan Dinsos P3A bersama Satpol PP dan aparat kepolisian, kami menjaring delapan orang, termasuk orang dengan gangguan jiwa dan gelandangan. Mereka semua bukan warga Pematangsiantar,” jelas Risbon.
Namun, video yang viral tetap menimbulkan pertanyaan dari masyarakat mengenai pendekatan yang digunakan petugas dalam menertibkan penyandang disabilitas. Banyak yang menyoroti pentingnya transparansi dan dokumentasi lengkap dalam setiap tindakan, khususnya terhadap kelompok rentan.
Kejadian ini menegaskan perlunya pendekatan yang lebih manusiawi dan penuh empati dalam menangani penyandang disabilitas, serta pentingnya keberadaan bukti dokumentasi dalam setiap proses penertiban agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
- Penulis: mediagramindo


