Dinas Kesehatan Aceh Catat Lonjakan Kasus HIV/AIDS dalam Dua Dekade Terakhir
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Selasa, 12 Agt 2025
- visibility 135
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Aceh – Dinas Kesehatan Aceh mengumumkan adanya lonjakan signifikan dalam jumlah kasus HIV/AIDS di wilayah tersebut selama dua dekade terakhir. Berdasarkan data kumulatif yang tercatat sejak tahun 2004 hingga Juli 2025, total kasus HIV/AIDS di Aceh mencapai 1.974 kasus. Dari jumlah tersebut, sekitar 81 persen penderitanya adalah laki-laki.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, Iman Murahman, menyampaikan data terbarunya di Aceh, Senin (11/8/2025).
“Rinciannya ada 1.914 kasus HIV dan 60 kasus AIDS. Jadi, totalnya mencapai 1.974 kasus,” ujarnya.
Iman menambahkan bahwa lonjakan kasus paling mencolok terjadi sejak tahun 2019. Ia menyebutkan bahwa angka kasus tahunan terus meningkat dan bahkan melampaui 100 kasus per tahun. Pada tahun 2023 dan 2024, angka kasus HIV/AIDS di Aceh mencapai lebih dari 300 kasus per tahun.
Dari total keseluruhan mayoritas pengidap HIV AIDS di Aceh yaitu laki-laki yang menyentuh angka 81 persen.
“Indikasinya yang pertama adalah 81 persen itu adalah laki-laki. Jadi, artinya lebih dari 50 persen itu populasi kuncinya adalah lelaki seks lelaki,” katanya.
Sementara rentang usia yang banyak pengidap HIV AIDS ialah yang berusia 21-30 tahun yang paling tinggi sebanyak 45 persen. Lalu usia 11-20 tahun sebanyak 6 persen.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) beberapa waktu lalu mengungkapkan Indonesia menempati peringkat ke-14 secara global dalam jumlah Orang dengan human immunodeficiency virus (ODHIV), serta peringkat ke-9 untuk kasus infeksi baru HIV.
Pada tahun 2025, jumlah ODHIV di Indonesia diperkirakan mencapai 564 ribu orang. Namun, baru sekitar 63 persen yang mengetahui status HIV-nya.
Dari angka tersebut, 67 persen telah mendapatkan terapi antiretroviral (ARV), dan hanya 55 persen yang mencapai kondisi viral load tersupresi, artinya, jumlah virus dalam tubuh sangat rendah hingga tidak terdeteksi dan risiko penularan pun nyaris nol.
Kementerian kesehatan (Kemenkes) menyebutkan per Maret 2025 pihaknya menemukan sebanyak 356.638 orang dengan HIV (ODHIV) dari total estimasi 564 ribu ODHIV hidup yang harus ditemukan pada 2025, agar dapat segera diberikan penanganan.
Data ini diketahui dari temu media daring beberapa hari yang lalu, menurut Direktur Penyakit Menular Kemenkes Ina Agustina Isturini mengatakan dari 356 ribu ODHIV tersebut sekitar 67 persen atau 239.819 orang sedang dalam pengobatan dan sekitar 55 persen atau 132.575 virusnya tersupresi.
Sementara itu di Indonesia sepanjang tahun 2024, tercatat 4.589 kasus infeksi menular seksual (IMS) pada kelompok usia 15–19 tahun.
Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2022, terdapat 2.569 kasus, sementara tahun 2023 naik menjadi 3.222 kasus. Artinya, dalam rentang tiga tahun, terjadi peningkatan hampir dua kali lipat.
Dikutip dari laman Kemenkes RI, pencegahan HIV merupakan langkah penting dalam mengurangi jumlah infeksi baru dan mencegah penyebaran virus ini dengan cara, tidak melakukan hubungan seksual sama sekali adalah cara pencegahan yang efektif dalam menghindari penularan HIV.
Ini khususnya berlaku bagi remaja dan orang dewasa muda yang belum siap secara fisik dan emosional untuk terlibat dalam hubungan seksual.
- Penulis: mediagramindo


