Fenomena Rojali, Rombongan Jarang Beli, Jadi Perbincangan Netizen dan Pengamat Ekonomi
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Sabtu, 19 Jul 2025
- visibility 88
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Labuan Bajo – Belakangan ini, muncul fenomena unik di tengah masyarakat Indonesia yang menarik perhatian dan sekaligus menjadi bahan guyonan di media sosial. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah “Rojali” atau “Rombongan Jarang Beli,” yang menggambarkan sekelompok orang yang datang ke pusat perbelanjaan secara beramai-ramai, berjalan dari lantai satu hingga rooftop tanpa melakukan transaksi belanja yang berarti.
Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, tren ini bukan sekadar bentuk “nongkrong hemat” semata, melainkan indikator dari situasi ekonomi dan perilaku kelas menengah atas saat ini. Ia menjelaskan bahwa mereka yang memiliki kemampuan finansial tetap memilih untuk menahan pengeluaran, meskipun secara ekonomi secara umum tidak terlalu terdampak.
“Sejak awal tahun sampai Juni 2025, tren pengeluaran masyarakat belum menunjukkan perbaikan. Orang-orang yang sebelumnya menjadi motor konsumsi kini lebih banyak menahan diri. Bahkan mereka yang punya uang pun lebih berhati-hati dalam berbelanja,” ujar David dalam acara BI Editors Briefing di Labuan Bajo.
Fenomena ini pun langsung menjadi bahan guyonan di media sosial. Banyak netizen menyampaikan komentar humoris mengenai kebiasaan tersebut, seperti:
“Masuk mal: lihat harga, tarik napas, terus muter lagi. Dompet selamat, kaki pegel.”
“Belanja enggak, tapi check-in instastory wajib. Yang penting vibe sultan.”
Selain itu, muncul pula sindiran halus yang menyatakan bahwa keramaian di mal bukan selalu indikator ekonomi yang membaik, melainkan bisa jadi tanda stres dan kebutuhan healing murah.
Pengamat ekonomi menilai bahwa fenomena Rojali ini mencerminkan adanya ketidakpastian ekonomi yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang. Meski begitu, fenomena ini juga menunjukkan kreativitas masyarakat dalam mencari hiburan dan bersosialisasi tanpa harus mengorbankan keuangan mereka, Sabtu (19/07).
Seiring berjalannya waktu, diharapkan situasi ekonomi dapat pulih dan tren belanja masyarakat kembali normal. Hingga saat itu, fenomena Rojali tetap menjadi cerminan unik dari dinamika sosial dan ekonomi Indonesia saat ini.
- Penulis: mediagramindo


