IHSG Anjlok 4,31% ke 4.961 dan Rupiah Tertekan ke Rp18.070, Terendah Sejak 2020
- account_circle Pipin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 9
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Pasar saham Indonesia kembali berdarah pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tertekan mendekati level psikologis baru.
Berdasarkan data perdagangan pagi ini, IHSG dibuka melemah sekitar 4,31% atau turun lebih dari 220 poin ke level 4.961,87. Level ini melanjutkan koreksi dalam dari akhir pekan lalu dan menjadi posisi terendah IHSG sejak Oktober 2020.
Koreksi hari ini memperpanjang tren negatif pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2026.
Tekanan berat sudah terjadi sejak akhir pekan lalu. Pada Jumat, 16 Oktober 2026, IHSG sempat ambles 11,57% hingga 11,6% ke level 5.185 – 5.199. Penurunan tersebut menjadi penurunan harian terburuk sejak krisis moneter 1998.
Akibat kejatuhan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan terpaksa melakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt).
Secara year-to-date (YTD), kinerja IHSG sepanjang 2026 telah terpangkas lebih dari 43%, menjadikannya salah satu indeks dengan kinerja terlemah di dunia.
Ada tiga faktor utama yang menekan pasar saham dan rupiah hari ini:
1. Isu Downgrade MSCI
Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rencana konsultasi untuk mempertimbangkan penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Masa konsultasi berlangsung hingga April 2027. Isu ini memicu kekhawatiran investor global akan berkurangnya porsi dana asing di Indonesia.
2. Arus Keluar Modal Asing (Foreign Outflow)
Derasnya arus keluar modal asing yang mencapai miliaran dolar AS dalam beberapa pekan terakhir semakin menekan IHSG dan nilai tukar rupiah.
3. Tekanan Makroekonomi
Nilai tukar rupiah tertekan mendekati kisaran Rp18.050 – Rp18.070 per USD. Tekanan diperparah oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang membebani defisit transaksi berjalan.
Hingga berita ini diturunkan, BEI dan Bank Indonesia masih memantau ketat pergerakan pasar.
- Penulis: Pipin


