Jumlah Korban Banjir dan Longsor di Sumatera Hampir Seribu Orang
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
- visibility 155
- print Cetak

Foto : Kondisi Aceh Tamiang Pasca Banjir dan Longsor, Salah satu Mayat dari foto Nizam di akun Facebooknya dan Jumlah Korban Terus Bertambah, Sabtu (06/12).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sumatera – Pasca banjir dan longsor bencana alam yang cukup parah, dengan jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor yang terus bertambah. Hingga hari ini, data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa jumlah korban jiwa di tiga provinsi Sumatera mencapai hampir seribu orang, tepatnya 914 jiwa.
Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sejak laporan terakhir, dan menandai situasi yang semakin darurat.
Sebelumnya, Kepala BNPB, Suharyanto, sempat menuai kritik karena pernyataannya yang bernada meremehkan kondisi di lapangan.
Ia menyebut bahwa kondisi yang tampak mencekam bukan semata-mata karena fakta riil yang terjadi, melainkan karena banyaknya informasi yang berseliweran di media sosial.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian luas dan kritik keras dari berbagai pihak yang menilai bahwa pernyataan tersebut tidak sensitif terhadap penderitaan masyarakat yang terdampak.
Namun, setelah menerima kritik, Suharyanto kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia menegaskan bahwa pernyataannya tidak bermaksud meremehkan, melainkan untuk mengingatkan pentingnya pengelolaan informasi agar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan.
Meski begitu, realitas di lapangan menunjukkan bahwa situasi benar-benar memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan semua pihak terkait.
Data dari BNPB menyebutkan bahwa dari tiga provinsi terdampak—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—provinsi Aceh tercatat sebagai yang paling parah dengan 359 jiwa meninggal dunia.
Sumut mengikuti dengan 329 jiwa, dan Sumbar sebanyak 226 orang. Selain angka kematian, tercatat juga sekitar 389 orang masih dinyatakan hilang dan sedang dalam proses pencarian oleh tim SAR.
Kondisi di lapangan menunjukkan betapa beratnya perjuangan warga untuk bertahan hidup. Beberapa kisah menyentuh hati datang dari warga Aceh Tamiang, yang mengungkapkan bahwa mereka harus bertahan di atas atap rumah selama beberapa hari tanpa bantuan.
Mereka tinggal di ketinggian, menunggu pertolongan yang tak kunjung datang. Bahkan terdapat laporan tentang suasana kota yang porak poranda, dengan aroma bangkai menyengat, sehingga warga menyebutnya seperti “kota zombie”.
Keadaan ini menunjukkan betapa dahsyatnya dampak bencana, serta perlunya penanganan cepat dan efektif.
BNPB terus melakukan berbagai upaya percepatan penanganan darurat, termasuk operasi pencarian dan pertolongan. Upaya ini diharapkan dapat meminimalkan jumlah korban dan membantu warga yang membutuhkan.
Pemerintah juga mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi untuk keselamatan bersama.
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan ketangguhan dalam menghadapi bencana alam. Selain itu, pengelolaan informasi yang tepat dan bertanggung jawab menjadi kunci agar masyarakat tidak menjadi panik dan tetap fokus pada langkah-langkah penyelamatan.
- Penulis: mediagramindo


