Kekacauan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Emas, Analis Peringatkan Volatilitas
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Minggu, 15 Jun 2025
- visibility 95
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Ketegangan yang terus berlanjut di wilayah Timur Tengah, khususnya konflik antara Israel dan Iran, kembali memicu peningkatan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.
Kondisi geopolitik yang tidak menentu ini menyebabkan harga emas melonjak tajam dan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Mengutip data dari pasar internasional, harga emas spot ditutup di level USD 3.434,12 per ons pada akhir pekan ini, menguat 3,75% dibandingkan pekan sebelumnya.
Lonjakan ini menjadikan harga emas sebagai salah satu yang tertinggi sejak pencatatan harga emas secara global.
Kendati demikian, para analis menilai bahwa kenaikan harga emas ini masih bersifat sementara dan dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik.
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menyatakan bahwa tanpa adanya eskalasi lebih jauh, harga emas sulit untuk terus naik di atas USD 3.400 per ons secara berkelanjutan.
“Tanpa adanya faktor tambahan, kenaikan harga emas cenderung terbatas,” ujarnya seperti dikutip dari Kitco, Minggu (15/06).
Sementara itu, para ahli memperingatkan potensi volatilitas yang tinggi dalam waktu dekat. Michele Schneider, Kepala Strategi Pasar di MarketGauge, mengatakan bahwa trader jangka pendek mungkin akan memanfaatkan reli saat ini untuk mengambil keuntungan.
Hal ini bisa berujung pada penurunan harga dalam jangka pendek, meskipun tren jangka panjang tetap menunjukkan kenaikan yang solid untuk emas dan perak.
Di sisi lain, dolar AS mengalami penurunan, dengan indeks dolar tercatat turun 1% dalam sepekan terakhir dan diperdagangkan di angka 98,13. Penurunan ini meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven alternatif selama masa ketidakpastian.
Pasar saat ini juga menantikan pernyataan dari Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, usai pertemuan kebijakan moneter minggu depan.
Ekspektasi pasar menunjukkan bahwa suku bunga kemungkinan akan dipertahankan, namun ada peluang Powell memberikan sinyal dovish terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga akhir tahun ini.
Data inflasi yang mulai melandai dan tanda-tanda perlambatan ekonomi AS memberi ruang bagi bank sentral untuk mengambil sikap yang lebih longgar, meskipun ketidakpastian global tetap menjadi faktor utama.
Senior Market Analyst FXTM, Lukman Otunuga, menilai bahwa penutupan mingguan di atas USD 3.430 menjadi indikator teknikal penting yang menunjukkan potensi tren bullish emas akan berlanjut.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa jika harga kembali turun di bawah level tersebut, kemungkinan besar harga emas akan terkoreksi ke kisaran USD 3.400 hingga USD 3.360.
Para analis sepakat bahwa segala perubahan dalam arah kebijakan The Fed maupun meredanya konflik di Timur Tengah akan menjadi faktor penentu pergerakan harga emas ke depan.
Dengan sentimen geopolitik yang masih tinggi dan potensi sinyal dovish dari bank sentral AS, para pelaku pasar memandang bahwa harga emas berpeluang menembus rekor baru di atas USD 3.500 per ons dalam waktu dekat.
- Penulis: mediagramindo


