Raya Bocah (3 th) Meninggal Dengan Kondisi Cacingan
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Selasa, 19 Agt 2025
- visibility 136
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumi – Raya, bocah laki-laki berusia tiga tahun, dilaporkan meninggal pada Juli 2025 di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Kejadian tersebut dikabarkan dengan kondisi jenazah Raya yang dipenuhi cacing, menurut keterangan yang beredar di kalangan warga dan penjelasan dari pihak berwenang.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan rasa prihatin atas peristiwa ini melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram-nya pada Selasa (19/8/2025). Dalam video tersebut, Dedi menyampaikan, “Saya merasa prihatin dan rasa kecewa yang mendalam dan permohonan maaf atas meninggalnya balita berusia tiga tahun dan dalam tubuhnya dipenuhi cacing,”

Keterangan dari gubernur menambah konteks bahwa kejadian tersebut memantik perhatian publik terkait aspek sanitasi lingkungan.
Dedi Mulyadi menambahkan, menurut penjelasan dokter, tubuh Raya diduga dipenuhi cacing akibat lingkungan yang tidak bersih.
Informasi ini menandakan bahwa faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan setempat menjadi fokus utama dalam penanganan kasus ini. Pihak berwenang masih menindaklanjuti temuan medis dan melakukan pengecekan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti serta langkah-langkah pencegahan ke depannya.
Dedi Mulyadi juga mengungkapkan bahwa beliau akan menindaklanjuti temuan ini dengan langkah tegas bagi pihak desa jika terbukti adanya kelalaian atau keterlibatan dalam permasalahan sanitasi lingkungan.
“Saya mengancam sanksi Desa bila ditemukan kelalaian yang berujung pada kematian anak,” ujar gubernur dalam pernyataan yang disampaikan melalui video tersebut.
Disisi lain penjelasan Kepala Desa Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, membenarkan kondisi keluarga Raya. Ia menjelaskan kedua orangtua Raya diduga mengalami keterbelakangan mental, sehingga hanya mampu merawat anaknya sebisanya.

“Kedua orangtuanya memiliki keterbelakangan mental, sehingga daya asuh terhadap anaknya kurang, tidak tahu persis bagaimana kondisi anaknya,” kata Wardi kepada awak media di RSUD Sekarwangi Cibadak.
Diketahui, Raya sering hidup dalam keadaan tidak sehat, seperti bermain di bawah kolong rumah bersama ayam.
Wardi menyebut, Raya juga menderita demam dan penyakit paru-paru, namun terkendala administrasi karena keluarga tidak memiliki Kartu Keluarga (KK) dan BPJS.
Setelah penyakitnya makin parah, kemudian ada salah satu keluarga yang kenal dengan rumah teduh (filantropi) laporan, langsung dijemput pakai ambulans.
Pemerintah Desa sudah tahunya sampai situ. Tapi sebelum dibawa (rumah teduh), Raya ini sering keluar masuk klinik dan puskesmas penjelasannya Wardi.
Raya kemudian dirawat selama sembilan hari dengan bantuan filantropi, tapi meninggal dunia pada 22 Juli 2025.
“Iya sering kita kontrol, kalau ada rezeki juga sedikit kita suka kasih, kan orangtuanya gak bisa kerja juga. Tapi yang namanya penyakit juga kan kita enggak tahu. Raya dan kakaknya ini tidak seperti ortunya (mengalami keterbelakangan mental),” ujar Wardi.
- Penulis: mediagramindo


