25 Desa Hilang dan 1.178 Orang Korban Banjir dan Longsor di Sumatera
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- visibility 117
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatera terus mengalami peningkatan.
Hingga hari ini, Selasa (6/1), total korban jiwa yang tercatat mencapai 1.178 orang. Abdul Muhari mengungkapkan, ada penambahan satu korban jiwa dari Tapanuli Tengah, sehingga angka tersebut bertambah dari hari sebelumnya.
Selain korban meninggal, Abdul Muhari juga mengonfirmasi bahwa jumlah korban yang masih hilang tetap pada angka 147 orang.
Tim SAR dan pihak berwenang masih melakukan pencarian aktif untuk menemukan korban yang hilang tersebut. Upaya pencarian ini dilakukan secara intensif guna memastikan keselamatan dan keadilan bagi keluarga korban.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menyatakan bahwa sejumlah desa di wilayah terdampak mengalami kehilangan secara total. Saat ini, tercatat sekitar 25 desa yang hilang akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di daerah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Pemerintah terus berupaya memulihkan kondisi ekonomi dan infrastruktur di wilayah-wilayah yang terdampak.
Tito menjelaskan bahwa di Aceh, ada tujuh titik utama yang menjadi fokus pemulihan dan rekonstruksi. Salah satunya adalah Aceh Tamiang, di mana kantor pemerintah setempat masih belum dapat beroperasi secara normal karena lingkungan yang masih berlumpur dan tertutup material longsor.
Wilayah lain yang menjadi perhatian adalah Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Saat ini, akses jalan dan aktivitas ekonomi di wilayah-wilayah tersebut mulai menunjukkan perbaikan.
Di Sumatera Utara, dari 18 daerah terdampak, 13 di antaranya sudah relatif pulih dan aktivitas masyarakat mulai kembali normal. Tito menambahkan bahwa infrastruktur dan layanan dasar di daerah terdampak terus diperbaiki untuk mendukung pemulihan jangka panjang.
Pemerintah Indonesia melalui BNPB dan kementerian terkait terus berupaya maksimal dalam penanganan bencana ini. Upaya penyediaan bantuan, rekonstruksi, dan pemulihan ekonomi menjadi prioritas utama agar masyarakat yang terdampak dapat kembali menjalani kehidupan normal secepat mungkin.
Penanganan bencana ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antar lembaga dan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.
Diharapkan, dengan upaya keras dan koordinasi yang baik, jumlah korban yang meninggal dan hilang dapat diminimalkan, serta wilayah terdampak segera pulih dan kembali berkembang.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang demi keselamatan bersama.
- Penulis: mediagramindo


