Lomba Fornas VIII 2025 Tampilan Aurat Wanita Secara Vulgar
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
- visibility 147
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Lombok – Kontroversi menyelimuti penyelenggaraan Festival Nasional (Fornas) VIII tahun 2025 yang digelar di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa kalangan dari berbagai latar belakang mengkritik acara tersebut, menyebutnya sebagai langkah yang berpotensi merusak nilai-nilai kebangsaan dan melanggar prinsip-prinsip keadilan serta keberagaman bangsa.
Lomba Persatuan Binaraga dan Fisik Indonesia (Perbafi) yang dilaksanakan Raja Hotel Mandalika tuai kecaman berbagai pihak pada hari Senin 27 Juli 2025 mereka menyuarakan keprihatinan terhadap penyelenggaraan Fornas VIII 2025.
Mereka menilai bahwa binaraga perempuan dengan pakaian minim dan seksi tersebut tidak sesuai dengan semangat kebhinekaan dan bahkan berpotensi menimbulkan polarisasi di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Sejumlah organisasi masyarakat dan tokoh masyarakat menyampaikan kecaman mereka secara terbuka melalui berbagai platform media sosial dan pernyataan resmi. Mereka menganggap bahwa acara ini tidak mempertimbangkan aspek sensitivitas budaya dan keberagaman yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.
Abah Muazhar Habibi, Mudirul Am Pesantren Lentera Hati Islamic Boarding School mengutuk keras salah satu mata lomba mengeksploitasi tubuh wanita hal itu menurutnya hal itu tidak pantas sebab, Lebih-lebih itu dilaksanakan di NTB, di Pulau lombok, Pulau 1000 masjid.
“Saya mengutuk keras salah satu mata lomba mengeksploitasi tubuh wanita di atas panggung,”Ucapnya dalam Live di Facebook, Selasa (28/07).
Keprihatinan terhadap penyelenggaraan Fornas VIII 2025 yang dinilai sangat sensitif terhadap keberagaman dan keragaman budaya bangsa. Acara seperti ini harusnya menjadi ajang prestasi bukan ajang unjuk aurat wanita.
Selain itu, Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Pulau Lombok, memang dikenal sebagai daerah yang sangat agamis, terutama dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam. Julukan “Pulau Seribu Masjid” juga melekat pada Lombok karena banyaknya masjid yang tersebar di seluruh pulau.
Lomba Fornas VIII 2025 mempertontonkan aurat wanita secara vulgar sangat merusak budaya dan sejarah, iya menilai bahwa penyelenggaraan tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya di Indonesia dan bisa berimplikasi negatif terhadap rangkaian acara. Mereka mengingatkan pentingnya memperhatikan aspek keberagaman dalam setiap kegiatan nasional demi menjaga keutuhan bangsa.
Ragam komentar di Media Sosial berbagi kecaman yang terus bermunculan menunjukkan bahwa penyelenggara harus bertanggung jawab dan minta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia dimana pelaksanaan itu menggunakan uang Pajak Negara.
Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia dan pemerintah masih melakukan komunikasi intensif untuk mencari solusi terbaik agar acara tersebut dapat berjalan dengan memperhatikan sensitivitas dan keberagaman bangsa Indonesia.
- Penulis: mediagramindo


