Meningkatnya Ancaman Penipuan Digital di Indonesia Tantangan dan Solusi di Era AI
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
- visibility 109
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Mediagram – Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menyaksikan lonjakan signifikan dalam kasus penipuan digital, terutama yang berbasis sosial engineering dan penggunaan One-Time Password (OTP).
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2024 mencatat kerugian yang mencapai lebih dari Rp 2,5 triliun akibat penipuan tersebut.
Hal ini menunjukkan betapa rentannya masyarakat dan organisasi terhadap ancaman yang semakin canggih.
Sebuah laporan dari VIDA Fraud Intelligence Report 2025 mengungkapkan bahwa 97 persen organisasi di Indonesia pernah menjadi target serangan social engineering seperti dikutip dari liputan6 com.
Di tengah kemajuan teknologi, mekanisme OTP yang telah ada selama tiga dekade kini semakin mudah disusupi, terutama dengan munculnya teknik phishing yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI).
Salah satu fenomena yang mengkhawatirkan adalah peningkatan kasus deepfake di kawasan Asia Pasifik, yang melonjak hingga 1.550 persen dalam dua tahun terakhir (2022–2023).
Teknik seperti voice cloning dan video impersonation memungkinkan pelaku penipuan untuk menyamar sebagai tenaga medis atau pejabat, sehingga dapat mengakses sistem kesehatan dan data sensitif lainnya.
Niki Luhur, Founder dan Group CEO VIDA, menekankan pentingnya membangun kepercayaan digital di era yang didominasi oleh teknologi AI. Menurutnya, “AI bisa menciptakan ‘realitas palsu’ yang semakin sulit dibedakan, identitas digital yang tervalidasi menjadi fondasi kepercayaan baru.” Dalam konteks ini, VIDA berkomitmen untuk membangun trust by design, mulai dari identitas hingga transaksi, guna memastikan setiap interaksi digital aman dan terpercaya dari ancaman yang ditimbulkan oleh AI.
- Penulis: mediagramindo


