Wapres Apresiasi Inovasi Riset dan Hilirisasi Produk Herbal Serta Hortikultura Dikembangkan di Kabupaten Humbang Hasundutan
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Sabtu, 17 Mei 2025
- visibility 78
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Humbang Hasundutan – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menyampaikan apresiasi atas inovasi riset dan hilirisasi produk herbal serta hortikultura yang dikembangkan di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Hal ini disampaikan Wapres saat meninjau Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) di Kecamatan Pollung, Sabtu (17/05), didampingi Istri Selvi Ananda, Gubernur Sumut Bobby Nasution, dan Ketua TP PKK Sumut Kahiyang Ayu.
Dalam kunjungannya, Gibran menyoroti pengembangan komoditas lokal seperti kunyit, bunga telang, dan kentang yang sedang diuji coba untuk menghasilkan bioetanol dan produk turunan lainnya. Ia menilai bahwa inisiatif ini mencerminkan kekayaan alam hayati Indonesia dan pentingnya riset untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas tersebut.
Wapres juga memuji pengembangan hilirisasi tanaman kemenyan, yang merupakan salah satu komoditas unggulan Humbahas. “Saya rasa ini sangat luar biasa. Biasanya kita membicarakan hilirisasi nikel dan lain-lain, ini ada hilirisasi kemenyan. Ini sangat mendukung visi Presiden Prabowo Subianto mewujudkan kemandirian pangan nasional,” ujarnya.
Gibran menegaskan bahwa penguatan sektor pertanian menjadi fokus utama Presiden RI Prabowo Subianto. Ia berharap TSTH2 di Pollung dapat menjadi pusat penyedia bibit unggul nasional untuk mempercepat pencapaian swasembada pangan.
Selain itu, Wapres mengajak generasi muda agar lebih aktif terlibat dalam pertanian dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi, termasuk di TSTH2 Humbahas. “Saya titip untuk anak-anak muda agar bisa lebih tertarik di bidang pertanian ke depan,” katanya di hari terakhir kunjungan kerja.

Dalam kesempatan yang sama, Luhut Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Indonesia yang turut hadir, menegaskan bahwa TSTH2 berfungsi sebagai ‘pabrik bibit’ nasional. Ia menyebut, bibit yang dikembangkan mampu beradaptasi dengan lingkungan lokal dan bertujuan mengurangi ketergantungan impor. “Jadi ini sebenarnya bahasa mudahnya adalah pabrik bibit, tidak perlu lagi impor,” ujarnya.
Direktur TSTH2 Sri Fatmawati melaporkan bahwa kawasan ini berdiri di atas lahan seluas 500 hektare di kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK). Fasilitas modern yang tersedia meliputi rumah kaca, rumah jaring, laboratorium uji tanaman herbal, fasilitas pascapanen, tempat penyimpanan tanaman obat, serta fasilitas produksi biofertilizer atau pupuk hayati.
Sri Fatmawati menambahkan bahwa TSTH2 tengah mengembangkan hilirisasi kemenyan dan tanaman herbal lain seperti kunyit dan bunga telang untuk produk fungsional. Ia juga menyebutkan pengembangan model pabrik bibit unggul guna memperkuat daya saing komoditas herbal dan hortikultura di pasar global.
Kunjungan ini diharapkan dapat mendorong percepatan pengembangan inovasi dan produksi tanaman herbal serta hortikultura yang berkelanjutan di Humbahas, sekaligus mendukung visi nasional dalam ketahanan pangan dan kemandirian industri tanaman obat.
- Penulis: mediagramindo


