Dampak Rojali dan Rohana Terhadap Tenat Mall
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Jumat, 25 Jul 2025
- visibility 133
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Tren penurunan daya beli masyarakat di Indonesia semakin menjadi perhatian. Tidak hanya terlihat dari adanya kalangan “Rojali” atau rombongan jarang membeli, kini muncul fenomena baru yang disebut “Rohana” yakni rombongan yang hanya sekadar bertanya dan melihat-lihat tanpa membeli apa pun. Fenomena ini diyakini turut berkontribusi terhadap menurunnya omzet pusat perbelanjaan di tanah air.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonsus Widjaja, menjelaskan bahwa keberadaan pengunjung yang hanya bertanya atau sekadar jalan-jalan di mal sebenarnya merupakan bagian dari fungsi pusat belanja sebagai tempat hiburan dan edukasi, bukan hanya sebagai tempat berbelanja.
Ia menegaskan, kehadiran “Rohana” tidak sepenuhnya menjadi masalah besar, namun jika tren ini terus berlanjut dapat mempengaruhi performa penjualan tenant di pusat perbelanjaan.
“Fenomena Rohana muncul karena salah satu fungsi pusat belanja adalah sebagai tempat hiburan dan edukasi. Jadi, tidak selalu orang datang untuk belanja saja. Hal ini menyebabkan adanya fenomena Rojali dan Rohana yang selalu ada dari waktu ke waktu,” ujar Alphonsus.
Namun, menurutnya, tren ini berdampak langsung terhadap omzet ritel yang mengalami penurunan. Akibatnya, para penyewa gerai di mal pun menghadapi kesulitan dalam membayar sewa, yang akhirnya memaksa mereka berhenti beroperasi di pusat perbelanjaan.
Dampaknya, sejumlah mal, supermarket, dan department store di Indonesia terancam mengalami penutupan atau kebangkrutan.
Pengamat sosial Jeremy Huang Wijaya menambahkan, fenomena Rojali dan Rohana ini merupakan ancaman serius terhadap keberlangsungan pusat perbelanjaan di Indonesia. Menurutnya, jika pengunjung datang hanya untuk jalan-jalan dan tidak membeli, maka omzet akan terus menurun dan berdampak pada keberlangsungan tenant di mal.
“Kalau pengunjung yang hanya jalan-jalan dan tidak membeli semakin banyak, tentu ini akan berdampak buruk bagi keberlangsungan pusat perbelanjaan. Mal harus mencari cara agar pengunjung tetap tertarik berbelanja,” ungkap Jeremy, Jumat (25/07).
Sementara itu, pihak pengelola pusat perbelanjaan di Indonesia masih berupaya mencari solusi agar tren Rohana dan Rojali ini tidak berlarut-larut dan tetap mendukung keberlangsungan bisnis di sektor ritel. Pemerintah juga diharapkan turut serta dalam mengawasi dan memberikan insentif agar para tenant tetap bisa bertahan di tengah kondisi pasar yang menantang.
Dampak Fenomena Rojali dan Rohana Terus Dikhawatirkan Akan Membebani Perekonomian dan Menyebabkan Penutupan Mall
- Penulis: mediagramindo


