Dominasi Kuliner Non-Lokal di Medan Jadi Sorotan: Risiko Hilangnya Identitas Budaya Kota
- account_circle Muhammad Arsyad
- calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
- visibility 1.097
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Medan – Fenomena maraknya kedai kopi dan angkringan dari daerah lain di Kota Medan kembali mencuat, menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya identitas budaya lokal dalam dunia pariwisata dan kuliner kota tersebut.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Ecoventure sebuah Pusat Studi dan Kajian Kebijakan Publik yang berpusat di Medan, Sumatera Utara, Dhea Ananda, S.AP sebagai Direktur Pelaksana yang berjudul, “Analisis Fenomena Dominasi Kuliner Non-Lokal Dalam Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan di Kota Medan” mengungkapkan bahwa dominasi kuliner dari luar daerah berpotensi menggeser kekhasan budaya Medan yang multikultural, melalui pesan tertulis, Sabtu (24/01).
Dalam penelitian yang berlokasi di Kecamatan Medan Tembung ini, Dhea Ananda menyatakan bahwa fenomena ini tidak hanya soal bisnis, tetapi juga soal identitas budaya.
Pengamat muda dan aktivis mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara, Arif Mulki, menyampaikan kekhawatirannya bahwa kehadiran warkop kopi Aceh dan konsep kedai kopi seragam dari daerah lain secara perlahan mengikis ruang sosial tradisional Medan, seperti kedai kopi khas, lapo, dan tempat nongkrong berbasis budaya lokal.
“Kalau ini dibiarkan, Medan berisiko kehilangan ciri khasnya dan berubah menjadi ruang konsumsi budaya luar yang homogen,” ujar Arif Mulki saat wawancara eksklusif.

Ia menambahkan, pemerintah, pelaku usaha, dan kaum muda harus bersatu melindungi dan mengembangkan budaya lokal agar tetap hidup di tanah sendiri. “Perlu ada kebijakan yang mendukung keberlanjutan budaya dan kuliner khas Medan,” tegasnya.
Dhea Ananda juga mengungkapkan harapannya agar Pemerintah Kota Medan lebih fokus mengembangkan pariwisata kuliner yang berakar pada kekhasan daerah.
Ia mencontohkan makanan khas seperti mie gomak, soto Medan, dan mie balap yang harus menjadi identitas utama. Di lain sisi, minuman seperti Kopi Siddikalang yang jarang ditemukan di warkop Medan menjadi contoh perlunya kurasi dan regulasi dalam pengembangan wisata kuliner berbasis budaya.
Menurutnya, pengaturan ini tidak bermaksud menyingkirkan angkringan dan warkop mie Aceh, tetapi menata ulang posisi mereka agar seimbang dan adil dalam struktur ekonomi kota.

Ia menambahkan, dengan memasukkan kuliner khas Medan ke dalam promosi resmi wisata dan kawasan strategis, kota ini bisa memperkuat citra dan daya tariknya sebagai pusat wisata kuliner yang otentik dan berkarakter.
Penelitian ini melibatkan sejumlah tokoh dan akademisi seperti Ahmad Luthfi Hutasuhut, S.Sos., Dr. Kariaman Sinaga, S.Sos., M.AP MM, Jojor Putri Pasaribu, S.Kom, dan Hikmal Aprilian, S.Stat., yang sepakat bahwa keberanian dan keberpihakan terhadap budaya lokal sangat penting demi menjaga keberlanjutan pariwisata dan kuliner di Medan.
Dengan langkah strategis dan kebijakan yang tepat, diharapkan Medan tidak hanya dikenal sebagai kota kuliner yang ramai, tetapi juga sebagai kota dengan identitas budaya dan cita rasa yang khas, yang mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
- Penulis: Muhammad Arsyad


