Ketegangan di Timur Tengah Berpotensi Naikkan Harga BBM di Dalam Negeri
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
- visibility 85
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Ketegangan yang meningkat antara Israel dan Iran di Timur Tengah berpotensi mempengaruhi stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Konflik yang semakin memanas dan meluas ke negara-negara sekutu kedua pihak menimbulkan kekhawatiran akan ketidakpastian pasar minyak dunia, yang berpotensi berdampak pada harga BBM dalam negeri.
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menyatakan bahwa harga BBM non-subsidi, seperti Pertamax, kemungkinan besar akan mengalami kenaikan mengikuti pergerakan pasar minyak global. Ia menjelaskan bahwa harga BBM jenis ini mengikuti mekanisme pasar dan akan naik apabila harga minyak mentah dunia terus menguat.
“Untuk harga BBM non-subsidi, seperti Pertamax, selama ini kan sudah diserahkan pada mekanisme pasar. Jika harga minyak mentahnya naik, ya pasti akan menaikkan,” kata Fahmy, Selasa (17/06).
Sementara itu, Fahmy menambahkan bahwa untuk BBM bersubsidi, seperti Pertalite, pemerintah sebaiknya tidak buru-buru menaikkan harga. Ia menilai, kenaikan harga BBM subsidi akan berdampak pada inflasi dan menekan daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi saat ini.
“Selama harga minyak dunia masih di bawah US$ 100 per barel, pemerintah sebaiknya menahan kenaikan harga BBM subsidi,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa jika harga minyak melewati batas tersebut, maka langkah menaikkan harga BBM subsidi menjadi pilihan yang tidak terhindarkan agar beban APBN tidak semakin membengkak.
Di tempat lain, Peneliti Ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyampaikan bahwa saat ini harga minyak dunia berkisar antara US$ 73-75 per barel.
Ia menambahkan bahwa angka tersebut masih jauh di bawah asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025, yang menetapkan harga minyak sebesar US$ 82 per barel.
“Selama harga minyak tidak mengalami kenaikan signifikan di atas US$ 82 per barel, pemerintah belum perlu melakukan penyesuaian harga BBM subsidi,” jelas Rendy. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga BBM subsidi sebaiknya dilakukan jika harga minyak berada di atas batas asumsi tersebut.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas menimbulkan kekhawatiran akan ketidakpastian pasar minyak dunia, yang berpotensi memengaruhi harga BBM di Indonesia.
Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah antisipatif agar stabilitas harga bahan bakar tetap terjaga dan tidak memberatkan masyarakat serta perekonomian nasional.
- Penulis: mediagramindo


