Kondisi Pengungsi Perang Thailand dan Kamboja
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
- visibility 112
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kamboja – Ketegangan di perbatasan Thailand dan Kamboja semakin memanas setelah bentrokan bersenjata berkepanjangan yang terus meluas hingga Jumat sore kemarin.
Pemerintah Thailand mengumumkan langkah evakuasi massal terhadap warga sipil dari wilayah yang terdampak langsung konflik, sementara pihak Kamboja melaporkan adanya serangan udara dan korban luka-luka akibat tembakan lintas perbatasan.
Pemerintah Thailand secara resmi mengevakuasi lebih dari 100.000 warga dari empat provinsi yang berbatasan langsung, yakni Sa Kaeo, Surin, Sisaket, dan Buriram.
Warga dipindahkan ke hampir 300 titik penampungan sementara yang tersebar di stadion olahraga dan sekolah-sekolah di seluruh wilayah tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengamankan warga dari ancaman kekerasan yang terus meningkat.

Selain itu, Thailand menetapkan status siaga penuh di zona merah yang berjarak hingga 20 kilometer dari garis perbatasan.
Ribuan tentara dikerahkan untuk mengamankan wilayah dan mengatur distribusi bantuan kemanusiaan bagi warga yang mengungsi. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan meluasnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas regional.
Di sisi lain, Kamboja melaporkan bahwa pihaknya menjadi korban serangan dari Thailand. Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, dalam konferensi pers di Phnom Penh pada Sabtu (26/7),
Dia menyatakan bahwa serangan udara yang dilancarkan Thailand telah menghantam pangkalan militer di Provinsi Oddar Meanchey.
Ia juga menyampaikan bahwa sebanyak 21 personel militer dan setidaknya 50 warga sipil mengalami luka-luka akibat tembakan artileri lintas perbatasan yang berlangsung sejak Kamis, 24 Juli.
Lebih jauh, Socheata menyebutkan bahwa sebanyak tujuh warga sipil dan lima tentara tewas dalam konflik tersebut.
Salah satu warga Kamboja dilaporkan tewas setelah roket dari Thailand menghantam sebuah pagoda Buddha tempat ia bersembunyi pada hari Kamis lalu.

“Setidaknya 50 warga sipil dan lebih dari 20 tentara terluka akibat kekerasan ini,” ungkap Socheata.
Ia juga menegaskan bahwa situasi saat ini memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional untuk menghentikan konflik dan mengurangi korban jiwa di kedua pihak.
Sampai saat ini, kedua negara masih saling menyalahkan atas eskalasi kekerasan di perbatasan, sementara upaya diplomasi sedang dilakukan untuk meredakan ketegangan dan mencari solusi damai. Konflik ini menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya dampak sosial dan ekonomi di kawasan tersebut.
- Penulis: mediagramindo


