Krisis Operasional Melanda Dealer BYD di Shandong, Puluhan Diler Tutup dan Konsumen Dirugikan
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
- visibility 738
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jinan – Sebanyak 20 dealer 4S (Sales, Service, Spare Part, dan Survey) milik Shandong Qiancheng Holdings Co., Ltd., yang memasarkan kendaraan merek BYD di Provinsi Shandong, China, resmi ditutup akibat krisis operasional yang parah sejak bulan April 2025.
Penutupan ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan konsumen dan menimbulkan pertanyaan terkait tanggung jawab perusahaan terhadap layanan yang telah dibayar di muka, Jumat (30/05).
CarnewsChina melaporkan pada hari Jumat bahwa ruang pamer dealer-dealer tersebut tidak lagi memajang kendaraan dan layanan resmi dari BYD. Salah satu dealer utama, Jinan Qiansheng, yang sebelumnya dikenal sebagai diler nomor satu di China, kini menjadi sorotan bukan karena prestasi, melainkan karena kebangkrutan mendalam yang melanda perusahaan tersebut.
Krisis ini secara langsung mempengaruhi lebih dari seribu konsumen yang telah melakukan pembayaran uang muka untuk berbagai layanan, termasuk paket asuransi tiga tahun, rencana perawatan, pewarnaan kaca, perlindungan rangka, dan layanan perawatan seumur hidup yang dijanjikan.
Banyak dari mereka kini merasa tertinggal dan tidak mendapatkan hak-hak yang telah mereka bayarkan, bahkan sebagian telah mengorganisasi kelompok perlindungan hak konsumen untuk mencari solusi secara kolektif.
Sejarah panjang Qiancheng Group menunjukkan bahwa perusahaan ini didirikan pada 2014 dan dengan cepat menjadi mitra strategis utama BYD di wilayah Shandong. Grup ini mengelola lebih dari 20 dealer dan ruang pamer resmi BYD di seluruh provinsi, dengan klaim penjualan tahunan mencapai 3 miliar yuan (sekitar 420 juta USD) dan mempekerjakan lebih dari 1.200 staf.
Pada April 2024, Ketua BYD Wang Chuanfu bahkan mengunjungi Qiancheng Group di Jinan, sebagai pengakuan resmi atas statusnya sebagai dealer utama.

Namun, di balik keberhasilan tersebut, masalah keuangan mulai muncul. Pada Mei 2025, dealer-dealer ini mulai mengalami kesulitan pendanaan akibat ekspansi yang terlalu cepat dan berutang besar.
Dalam pernyataan resmi, Departemen Merek dan Hubungan Masyarakat BYD menegaskan bahwa mereka tetap menjaga kebijakan yang stabil dan konsisten terhadap jaringan dealer, serta menyalahkan masalah ini pada manajemen dealer dan pengaruh eksternal seperti kebijakan kredit bank yang konservatif dan kegagalan dealer lain di wilayah tersebut.
Sebaliknya, dokumen internal Qiancheng Group tertanggal 17 April mengungkapkan bahwa perubahan kebijakan BYD dalam dua tahun terakhir telah memberikan tekanan besar terhadap arus kas perusahaan.
Mereka juga menyebutkan bahwa beberapa dealer otomotif di Shandong mengalami kegagalan dan situasi ekonomi yang memburuk turut memperburuk kondisi keuangan grup.
Ketika Krisis ini mulai terungkap, banyak pelanggan yang merasa ditinggalkan. Mereka mengeluhkan bahwa sejak April 2025, sejumlah pelanggan yang telah membayar premi asuransi tahun kedua dan ketiga belum menerima pengembalian dana sesuai janji. Bahkan, mereka baru mengetahui bahwa dealer-dealer resmi telah meninggalkan lokasi dan tidak lagi memberikan layanan.
Meskipun BYD mengklaim telah mengalihkan beberapa toko ke dealer lokal yang diakuisisi dan memberikan dukungan untuk mengatasi masalah pelanggan serta karyawan, sebagian besar konsumen yang tergabung dalam kelompok perlindungan hak menolak penjelasan tersebut. Mereka menilai bahwa perusahaan gagal memberikan solusi yang memadai dan memuaskan.
Dengan tenggat waktu akhir Mei yang dijanjikan oleh Qiancheng untuk menyelesaikan masalah ini berlalu tanpa penyelesaian konkret, ribuan pelanggan kini mempertanyakan siapa yang akan bertanggung jawab atas layanan prabayar mereka dan bagaimana masa depan layanan purna jual dari merek BYD di wilayah tersebut.
Krisis ini menjadi ujian besar bagi reputasi BYD di pasar otomotif China dan menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut di masa mendatang.
- Penulis: mediagramindo


