Swasembada Beras Tercapai, Kini Mentan Targetkan Swasembada Gula
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Rabu, 11 Jun 2025
- visibility 88
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Surabaya – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya pembenahan tata kelola perkebunan tebu guna mempercepat pencapaian swasembada gula nasional.
Dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Tebu yang digelar di Surabaya, Mentan Amran menyampaikan sejumlah langkah strategis yang harus dilakukan seluruh pemangku kepentingan di sektor perkebunan tebu, Rabu (11/06).
Dalam kesempatan tersebut, Amran mengajak seluruh pihak untuk bergerak secara eksponensial meningkatkan produksi gula nasional melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi serta penyederhanaan regulasi. Ia menyebutkan bahwa intensifikasi meliputi perbaikan irigasi, penggunaan benih unggul, pengelolaan tanah yang efisien, serta penanganan serius terhadap kondisi ratoon tebu.

“Pemerintah siap memberikan dukungan berupa pupuk bersubsidi, perbaikan infrastruktur pertanian, hingga benih berkualitas melalui sinergi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PTPN,” ujar Amran.
Ia menegaskan bahwa saat ini sekitar 86 persen tanaman ratoon sudah berumur lebih dari tiga tahun, yang menandakan kondisi tanaman sudah rusak. Untuk itu, ia menargetkan dalam waktu maksimal tiga tahun, seluruh tanaman ratoon harus dibongkar dan diganti dengan tanaman baru.
Selain itu, pemerintah menargetkan perluasan lahan tebu baru hingga 200.000 hektare sebagai bagian dari upaya ekstensifikasi. Kolaborasi dengan PTPN diharapkan dapat mempercepat perluasan lahan tersebut, dengan total target mencapai 500.000 hektare.
“Ini adalah target minimal yang harus dicapai. Mulai disiapkan tahun ini dan selesai dalam tiga tahun. Anggaran yang dibutuhkan untuk pengembangan gula melalui PTPN diperkirakan mencapai Rp10 hingga Rp40 triliun,” ungkap Amran.

Tak hanya dari sisi produksi, Amran juga menyoroti regulasi yang perlu disederhanakan agar tidak menghambat petani dan pelaku industri gula.
Ia mencontohkan sistem akumulasi pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dinilai menyulitkan petani dalam mengakses pembiayaan secara berkelanjutan.
“Kredit KUR harus disesuaikan. Jika petani mampu membayar lancar setiap tahun, mereka harus bisa mengakses kembali tanpa harus menunggu akumulasi yang justru menyulitkan,” tuturnya.
Mengenai kondisi produksi gula nasional, Amran menyampaikan bahwa tren produksi terus meningkat. Pada 2024, produksi gula diperkirakan mencapai 2,46 juta ton, naik 8,57 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 2,27 juta ton. Bahkan, pada 2025, diperkirakan produksi akan mencapai 2,9 juta ton.
Kementerian Pertanian saat ini fokus mempercepat langkah menuju swasembada gula, dengan target gula konsumsi nasional dapat dipenuhi paling lambat tahun 2028, dan gula industri pada 2030. Dengan perbaikan tata kelola, Amran yakin target tersebut dapat tercapai lebih cepat.
“Kita optimistis swasembada gula segera terwujud. Saat ini, gula putih kita sudah hampir mencukupi kebutuhan dalam negeri. Kita tidak hanya ingin memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga industri,” pungkas Amran.
- Penulis: mediagramindo


