Dokter Gigi Ingatkan Bahaya Merokok pada Kesehatan Gigi dan Mulut
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Selasa, 3 Jun 2025
- visibility 89
- print Cetak

Foto ilustrasi Meta AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Dokter spesialis gigi umum Rumah Sakit Universitas Indonesia, drg. Deasy Rosalina, M.MedSc, mengingatkan bahwa kebiasaan merokok aktif berisiko menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada gigi dan gusi.
Ia menyebutkan, paparan zat karsinogenik dari rokok dapat memperburuk kondisi periodontal dan menyebabkan kerusakan serius pada jaringan penyangga gigi, Selasa (03/06).
Dalam diskusi kesehatan secara daring yang diikuti oleh berbagai kalangan di Jakarta, drg. Deasy menjelaskan bahwa perokok aktif rentan mengalami peradangan gusi dan kehilangan gigi secara dini.
“Pada kasus-kasus rokok, bisa terjadi gigi yang tiba-tiba goyang, padahal tidak ada lubang. Hal ini disebabkan oleh peradangan tingkat lanjut pada jaringan periodontal yang tidak diobati, sehingga pelekatan antara gigi dan tulang menjadi terputus,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa proses tersebut diawali dengan gingivitis, yaitu radang gusi yang ditandai dengan pembengkakan dan mudah berdarah.
Jika tidak segera ditangani, gingivitis dapat berkembang menjadi periodontitis, sebuah infeksi yang merusak jaringan penyangga gigi dan tulang pendukungnya. Akibatnya, gigi dapat menjadi goyang dan bahkan lepas sebelum munculnya karies.
Selain itu, perokok juga lebih rentan mengalami kalkulus gigi (karang gigi) dan resesi gingiva (turunnya gusi). Resesi ini menyebabkan akar gigi terekspos, meningkatkan sensitivitas dan membuat gigi tampak lebih panjang.
“Kadang orang merasa giginya jadi lebih panjang, padahal itu karena akar gigi yang terbuka akibat resesi gingiva,” jelasnya.
Tidak hanya itu, asap rokok dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi menjadi lebih kuning, bahkan pada perokok pasif. Dampak lain yang tak kalah serius adalah munculnya tanda-tanda perubahan warna pada lidah dan gusi yang menjadi kehitaman, dikenal dengan istilah smoker’s melanosis.
Lebih jauh, drg. Deasy juga memperingatkan tentang risiko terjadinya lesi pra-kanker di mulut, berupa bercak putih yang sering ditemukan di sekitar pipi atau bagian lain mulut.
Lesi ini berkaitan erat dengan penggunaan rokok dan dapat berkembang menjadi kanker mulut, seperti kanker bibir, lidah, langit-langit, dan gusi. Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi sariawan yang tidak kunjung sembuh, nyeri, serta kesulitan menelan.
Ia menegaskan bahwa menghindari merokok merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mulut dan mencegah komplikasi serius yang dapat merusak fungsi dan estetika gigi serta jaringan di sekitarnya.
Dengan kesadaran akan bahaya ini, diharapkan masyarakat semakin peduli terhadap pentingnya gaya hidup sehat dan bebas rokok.
- Penulis: mediagramindo


