DPR RI Soroti Ketergantungan Impor Energi di Tengah Kekayaan Sumber Daya Alam Indonesia
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Sabtu, 19 Jul 2025
- visibility 98
- print Cetak

Foto ilustrasi Meta AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menyatakan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, termasuk energi fosil seperti batu bara, gas, dan minyak mentah. Meski begitu, negara ini masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari.
Eddy menyampaikan bahwa cadangan minyak mentah Indonesia cukup besar, dan batu bara nasional mampu memenuhi produksi hingga 900 juta ton. Namun, kenyataannya, Indonesia masih harus mengimpor bahan bakar tersebut dari luar negeri.
“Di tengah-tengah kemewahan dan keberlimpahan sumber energi yang kita miliki, kebutuhan sehari-hari kita masih harus dipenuhi dari sumber-sumber luar,” ujar Eddy dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu (19/07).
Dia menambahkan bahwa pemerintah saat ini menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan LPG (Liquefied Petroleum Gas), terutama karena adanya defisit gas yang muncul lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa selama 2024, Indonesia mengimpor 3,94 juta ton LPG dari Amerika Serikat, dengan nilai mencapai US$ 2,03 miliar atau sekitar Rp 32,22 triliun.
Selain LPG, Indonesia juga mengimpor minyak mentah dari AS sebanyak 668,47 juta kg senilai US$ 430,87 juta (Rp 6,8 triliun). Secara keseluruhan, sepanjang 2024, total impor LPG mencapai 6,89 juta ton dengan nilai US$ 3,79 miliar, dimana sekitar 57% volume dan 53% nilai impor LPG berasal dari Amerika Serikat.
Eddy menyoroti bahwa ketergantungan tinggi terhadap impor ini menjadi tantangan bagi Indonesia, terutama dalam konteks upaya bertransisi menuju energi terbarukan. Ia menegaskan bahwa banyak pelaku usaha kini harus melakukan transformasi dari penggunaan energi fosil ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan, termasuk gas sebagai bagian dari transisi tersebut.
“Ini menjadi masalah besar karena kita memiliki sumber energi yang melimpah, tetapi masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan nasional,” tuturnya.
Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan sumber daya alam dan memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak terus bergantung pada impor, sekaligus mendukung transisi energi menuju sumber yang lebih berkelanjutan.
- Penulis: mediagramindo


