Iran Resmi Dilaporkan ke DK PBB Terkait Program Nuklir, Pertama Kali Dalam 20 Tahun Terakhir
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- visibility 34
- print Cetak

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) resmi melaporkan Iran ke Dewan Keamanan PBB terkait program nuklir (Foto: Ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Uranium 60 Persen dan Buntut Serangan AS-Israel
Ketegangan semakin meningkat setelah AS melancarkan serangan udara terhadap Iran. Dalam operasi tersebut, AS bersama Israel menghancurkan atau merusak parah fasilitas pengayaan uranium Iran pada Juni 2025, sehari setelah resolusi non-compliance pertama dijatuhkan.
Sejak serangan itu, Iran belum mengizinkan para inspektur IAEA kembali ke lokasi-lokasi yang menjadi sasaran bom. IAEA juga belum dapat memverifikasi kondisi persediaan uranium yang telah diperkaya Iran, termasuk sebagian yang mencapai tingkat kemurnian hingga 60 persen — hanya selangkah dari tingkat kemurnian yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.
IAEA memperkirakan lebih dari 200 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat tinggi itu masih selamat dari serangkaian serangan udara. Material tersebut diyakini berada di kompleks terowongan di Isfahan dan fasilitas nuklir Natanz.
Sebagai negara pihak dalam Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Iran memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Teheran berulang kali menyatakan tidak akan pernah membuat senjata nuklir. Namun, Iran menjadi satu-satunya negara yang diketahui melakukan pengayaan hingga 60 persen tanpa memiliki senjata nuklir.
- Penulis: mediagramindo


