Pengembangan Produk Jamu Modern, Gelar Kosme Health Workshop
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
- visibility 65
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KARAWANG — Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Dr. Sofa Fajriah, menegaskan pentingnya sinergi antara ilmu pengetahuan dan warisan budaya dalam pengembangan produk jamu modern. Hal ini disampaikan dalam acara Kosme Health Workshop yang digelar di Cikarang, Selasa (20/05).
Dalam kesempatan tersebut, Sofa menyatakan bahwa inovasi dalam industri jamu memiliki peran strategis dalam membangkitkan kembali kejayaan herbal Indonesia.
Ia menambahkan, “Kosme menunjukkan bahwa riset dan budaya bisa berjalan beriringan untuk membentuk produk yang tidak hanya modern, tapi juga bernilai budaya tinggi,” ujarnya, merujuk pada berbagai lini produk jamu yang telah dikombinasikan dengan kebutuhan konsumen masa kini.
Inovasi di sektor ini telah meliputi pengembangan jamu siap minum, kombinasi jamu dengan superfood, probiotik, serta bahan aktif kosmetik untuk produk kecantikan.
Beberapa produk bahkan dikemas dalam bentuk yang lebih dekat dengan selera generasi muda, seperti boba herbal, sparkling herbal, hingga gummy herbal, yang diharapkan mampu menarik minat pasar muda.
Berdasarkan riset dari Tim CMI, pasar obat tradisional Indonesia diperkirakan akan tumbuh dengan laju CAGR sebesar 7,1 persen selama 2024–2033. Nilai pasar ini diproyeksikan mencapai 25,4 miliar dolar AS pada akhir periode tersebut.
Tren konsumen juga menunjukkan pergeseran signifikan: 56 persen dari generasi muda tertarik dengan jamu yang dikemas secara praktis, sementara WHO mencatat bahwa 70 persen masyarakat global kini beralih ke produk alami dan herbal pascapandemi COVID-19.
Indonesia, yang memiliki kekayaan biodiversitas lebih dari 30.000 spesies tanaman, termasuk 7.500 yang berkhasiat obat, dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan produk herbal dunia. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dan pelaku industri dalam meningkatkan daya saing produk herbal nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Shandy Purnamasari, pendiri Kosme Health, menyampaikan bahwa jamu tidak harus dipersepsikan sebagai sesuatu yang kuno dan pahit.
Ia menegaskan,“Kami ingin membawa jamu ke bentuk baru yang lebih bisa dinikmati generasi modern tanpa menghilangkan khasiatnya.” Kosme Health juga membuka layanan maklon untuk membantu UMKM memproduksi jamu dengan standar tinggi dan efisien.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu, Jony Yuwono, menyambut positif inovasi tersebut. Ia menilai, pendekatan yang dilakukan Kosme dapat membuka peluang kolaborasi baru antar pelaku usaha jamu, baik skala besar maupun kecil.
“Ini bukan sekadar soal produk, tapi bagaimana kita memahami kembali filosofi jamu sebagai perpaduan antara doa, pengobatan, dan kearifan lokal,” ujarnya.
- Penulis: mediagramindo


