Pertamina International Shipping Siapkan Jalur Alternatif Menghadapi Konflik Iran-Israel
- account_circle mediagramindo
- calendar_month Jumat, 20 Jun 2025
- visibility 169
- print Cetak

Foto ilustrasi Meta AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Pertamina International Shipping (PIS) mengantisipasi dampak konflik Iran-Israel yang meningkat dengan menyiapkan jalur pengiriman alternatif melalui pelabuhan di Oman, India, dan Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelangsungan rantai pasok energi Indonesia di tengah ketegangan kawasan Timur Tengah.
Corporate Secretary PIS, Muhammad Baron, mengatakan bahwa perusahaan berupaya memastikan kelancaran operasional kapal dengan melakukan peningkatan kewaspadaan dan pemantauan secara ketat terhadap pergerakan kapal, terutama yang melintasi jalur internasional di wilayah yang rentan terhadap konflik.
“Untuk menjamin kelangsungan rantai pasok, beberapa alternatif jalur pengiriman yang kami siapkan adalah melalui wilayah Oman, Amerika Serikat, dan India,” ujar Baron dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (20/6).
Dia menambahkan, jalur yang menjadi prioritas termasuk yang melintasi Laut Merah dan Terusan Suez, yang berpotensi terdampak oleh ketegangan di kawasan tersebut. Saat ini, PIS memastikan seluruh kapal yang beroperasi di rute internasional dalam kondisi aman dan terkendali.
Terkait kenaikan biaya pengiriman akibat pengalihan jalur, Baron menyatakan bahwa pihaknya belum melakukan kalkulasi secara rinci. Fokus utama saat ini adalah menyusun berbagai skenario antisipatif yang didasarkan pada dinamika kawasan Timur Tengah.
“Dinamika regional ini menjadi perhatian utama kami untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi,” ujarnya. PIS berkomitmen untuk menjaga keselamatan armada dan memastikan kelancaran pengangkutan energi ke Indonesia, sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan energi nasional.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak Jumat (13/6), ketika Israel melancarkan serangan udara di sejumlah lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir. Respon dari Iran pun tidak tinggal diam, dengan melancarkan serangan balasan ke berbagai titik di Iran pada hari yang sama.
Dampaknya, menurut otoritas setempat, setidaknya 24 orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat serangan Israel. Sebaliknya, di Iran, dilaporkan sekitar 639 orang tewas dan lebih dari 1.300 luka-luka akibat serangan balasan tersebut.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan akan memutuskan dalam dua pekan apakah negara-negara koalisi akan turut serta dalam aksi militer terhadap Iran. Keputusan ini menjadi salah satu pertimbangan penting dalam dinamika konflik kawasan yang berpengaruh terhadap stabilitas pengiriman energi global.
- Penulis: mediagramindo


