Solusi Limbah Dapur MBG, Menjaga Keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis
- account_circle Zulfan ST MT ( Pengajar Fakultas Teknik Mesin, UNIVA Medan)
- calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
- visibility 499
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Medan – PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi. Namun, aktivitas dapur komunal dengan skala masif membawa konsekuensi lingkungan berupa limbah cair domestik.
Setiap harinya, sisa pencucian bahan makanan, peralatan masak, dan sisa makanan menghasilkan air limbah dengan konsentrasi organik tinggi (minyak, lemak, dan protein).
Jika dibuang langsung ke saluran umum, limbah ini dapat menyebabkan penyumbatan drainase, bau tidak sedap, serta pencemaran air tanah.
Oleh karena itu, penyediaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan kapasitas yang tepat, rata -rata air limbah diahasilkan berkisar 30 m³per hari, menjadi syarat mutlak agar program ini berjalan selaras dengan prinsip kelestarian lingkungan.
Pengolahan limbah dapur bertujuan untuk menurunkan kadar polutan biologis dan kimiawi hingga mencapai ambang batas aman (Baku Mutu Air Limbah).
Parameter utama yang harus diturunkan meliputi BOD (Biological Oxygen Demand) Jumlah oksigen yang dibutuhkan bakteri untuk mengurai zat organik, TSS (Total Suspended Solids) Padatan tersuspensi dalam air dan Grease & Oil adalah kandungan lemak dan minyak yang sulit terurai secara alami.
- Penulis: Zulfan ST MT ( Pengajar Fakultas Teknik Mesin, UNIVA Medan)


